Senin, 02 Mei 2016

Peranan Guru dalam Sekolah dan Masyarakat



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, surau, mushala, rumah, dan sebagainya.
Guru memegang kedudukan dan peranan yang strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut kedudukan dan peranan guru sulit digantikan oleh orang lain. Dipandang dari dimensi pembelajaran peranan guru dalam masyarakat Indonesia tetap dominan, sekalipun tekhnologi yang dapat di manfaatkan dalam proses pembelajaran tersebut. Maka dari itu, sejalan dengan hakikat dan makna yang terkandung dalam topik tersebut, masalah pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah peranan guru di sekolah dan dalam masyarakat.
B.     Rumusan Makalah
1.      Bagaimana Kedudukan Dan Peranan Guru?
2.      Apa saja Peranan Guru Sehubungan Dengan Murid
3.      Apa saja Peranan Guru Dalam Masyarakat
4.      Apa maksud dari Guru Sebagai Penggerak Perubahan
5.      Bagaimana Revitalisasi Peranan Guru Di Sekolah Dan Masyarakat?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui kedudukan dan peranan guru di sekolah.
2.      Untuk mengetahui Peranan Guru Sehubungan Dengan Murid.
3.      Untuk mengetahui Peranan Guru Dalam Masyarakat.
4.      Untuk mengetahui maksud dari Guru Sebagai Penggerak Perubahan.
5.      Untuk mengetahui Revitalisasi Peranan Guru Di Sekolah Dan Masyarakat.




















  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kedudukan Dan Peranan Guru
Peranan guru disekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik dan sebagai pegawai. Yang paling utama ialah kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik, yaknisebagai guru. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis, intelektual, dan sosial lebih tinggi dari pada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Guru sebagai seorang pendidik dan pembina generasi muda harus menjadi teladan didalam sekolah maupun diluar sekolah.
Penyimpangan yang etis dari guru mendapat sorotan dan kencaman yang lebih tajam. Masyarakat tidak dapat membenarkan pelanggaran-pelanggaran seperti berjudi, mabuk, korupsi atau mengebut, namun kalau guru melakukannya maka dianggap sangat serius. Guru yang berbuat demikian akan merusak murid-murid yang dipercayakan kepadanya. Orang yang kurang bermoral dianggap tidak akan mungkin menghasilkan anak didik yang mempunyai etika tinggi.
Kedudukan guru juga ditentukan oleh fakta bahwa ia orang dewasa. Dalam masyarakat  kita orang yang lebih tua harus dihormati. Oleh sebab itu guru guru lebih tua dari pada muridnya maka berdasakan usianya ia mempunyai kedudukan yang harus dihormati, apalagi karena guru juga dipandang sebagai pengganti orang tua. Hormat anak kepada orang tuanya sendiri harus pula diperhatikannya terhadap gurunya dan sebaliknya guru harus pula memandang murid sebagai anak.
B.     Peranan Guru Sehubungan Dengan Murid
Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam-macam menurut situasi interaksi sosial sosial yang dihadapinya yakni situasi formal dalam proses belajar mengajar  dalam kelas dan dalam situasi informal.
Dalam situasi formal yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukan kewibawaan atau otoritasnya, artinya ia harus mampu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat menggunakan kekuasaanya untuk memaksa anak belajar, melakukan tugasnya atau mematuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia menegakan disiplin demi kelancaran ketertiban proses belajar mengajar.
Dalam pendidikan kewibawaan merupakan syarat mutlak. Mendidik ialah membimbing anak dalam perkembanganya kearah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan diperoleh bila pendidik mempunyai kewibawaan.  Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal  yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin.
Adanya kewibawaan guru dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :
Anak-anak sendiri mengharapkan guru yang berwibawa, yang dapat bertindak tegas untuk menciptakan suasana disiplin dan mereka bersedia mengakui kewibawaan itu. Bila ada guru baru, mereka sering menguji hingga manakah kewibawaan guru itu. Mereka lebih senang bila guru menang dalam pengujian kewibawaan guru itu.
Guru dipandang sebagai pengganti orang tua, lebih-lebih pada tingkatan SD. Bila dirumah anak itu mematuhi ibunya, maka lebih mudah ia menerima dn mengakui kewibawaan ibu guru.
Pada umumnya tiap orang tua mendidik anaknya agar patuh kepada guru. Bila guru digambarkan sebagai orang yang harus dihormati, sebagai orang yang berhak menghubung pelanggaran anak, bila orang tua senantiasa memihak guru dalam segala tindakannya, maka guru lebih mudah menegakan kewibawaannya.
Guru sendiri dapat memelihara kewibawaanya dengan menjaga adanya jarak sosila antara dirinya dengan murid. Kewibawaan akan lebih mudah lenyap bila guru itu terlamapau akrab dengan murid dan bersenda gurau dengan mereka. Sekalipun dalam situasi informal guru harus senantiasa menjaga kedudukannya sebagai guru dan tidak menjadi salah seorang anggota yang sama dengan anak-anak.
Guru harus selalu disebut sebagai “ibu guru” dan “pak guru” dan dengan julukan itu memperoleh kedudukan sebagai orang yang dituakan.
Dalam kelas guru duduk atau berdiri didepan murid. Posisi yang menonjol itu memberikannya kedudukan yang lebih tinggi dari pada murid yang harus duduk tertib dibangku tertentu. Ia senantiasa mengawasi gerak gerik murid untuk mengontrol kelakuannya. Sebagai guru ia berhak menyuruh murid melakukan hal-hal menurut keinginannya.
Guru sering disediakan ruang guru yang khusus yang tak boleh dimasuki murid begitu saja.
Guru-guru muda yang ingin bergaul dengan murid sebagai kakak akan dinasehati oleh guru-guru tua yang berpengalaman agar menjaga jarak dengan murid dan jangan terlamapau rapat dengan mereka.[1]
1.      Fungsi Menifes Dari Guru
a.       guru sebagai pengajar
mayarakat mengharapkan guru dapat memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasaryang dibutuhkan oleh anak-anak mereka dalam mengarungi kehidupan kelak seperti berhitung, membaca, dan menulis. Konsepsi pengetahuan dan ketrampilan dasar dalam setiap masyarakat berbeda sesuai dengan perkembangan dan latar belakang masyarakat ini. Pada masyarakat perdesaan pesisir memerlukan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang berbeda dengan masyarakat industrial perkotaan. Pada masyarakat pedesaan pesisir, ,misalnya membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tentang kelautan, nelayan dan kepesisiran seperti budidaya rumpt laut, jenis ikan tertentu dan udang sedangkan masyarakat industrial perkotaan, misalnya, memerlukanm pengetahuan dan ketrampilan tentang industri dan perdagangan seperti ketampilan menggunakan berbagai program computer, berbagai ketrampilan les dan sebagainya.
b.      guru sebagai pendidik
Dalam masyarakat, guru tidak hanya diharapkan untuk sekedar mengajar pengetahuan dan ketrampilan seperti yang dikemukakan diatas, tetapi lebih dari itu dengan mendidik segala  ‘’sesuatu’’ yang diperlukan murid sehingga dalam beradaptasi dengan berbagai persoalan kehidupan seperti praksis budi pekerti, soft skill, dan berbagai capital yang diperlukan dalam hidup seperti capital social, budaya, simbolik, dan spiritual.
c.       guru sebagai teladan
Guru dikontruksi oleh para murid, terutama pad ataman kanak-kanak dan sekolah dasar, sebagai makhluk yang mulia, seperti makhluk ‘’setengah dewa’’. Sebab itu, apa saja yang dikatakan, dilakukan, dan diperbuat oelh para furu dipandang sebagi suatu kebenaran, dari sisi mana pun, baik dalam cara maupun substransi. Pengalaman yang dimiliki oleh para orang tua yang memiliki anak yang sedang mengikuti taman kanak-kanak atau sekolah dasar menunjukan bahwa anak-anak mereka lebih taat dan petuh terhadap gurunya ketimabng apa yang dikatakan, disuruh atau disarankan oleh meraka sebagai orang tua.
d.      guru sebagai motivasi
Guru diharapkan mampu memberikan dorongan, kekuatan, motivasi dan energy yang besar jepada semua muridnya agar mereka mampu meraih cita-cita yang digantung setinggi langit. Berbagai kisah,biografi, dan sejarah guru telah menunjukan betapa hebat dan dahsyatnya peran guru sebagai motivator terhadap anak-anak di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.[2]


C.    Peranan Guru Dalam Masyarakat
Peranan guru dalam masyarakat antara lain bergantung pada gambaran masyarakat tentang kedudukan guru. Kedudukan sosial guru berbeda dari negara ke negara, dari zaman ke zaman. Pada zaman Hindu misalnya guru yang menduduki tempat yang sangat terhormat sebagai satu-satunya sumber ilmu.
Pada zaman VOC yang menjadi guru adalah orang-orang yang ada pengetahuanya sedikit seperti tukang sepatu, tukang pangkas, orang yang mengubur mayat. Di negara kita kedudukan guru sebelum Perang Dunia II sangat terhormat karena hanya mereka yang terpilih dapat memasuki lembaga pendidikan guru. Hingga kini citra tentang guru masih tinggi walaupun sering menurut yang dicita-citakan yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
Karena kedudukan yang istimewa itu masyarakat mempunyai harapan-harapan yang tinggi tentang peranan guru. Harapan-harapan itu tidak dapat diabaikan oleh guru, bahkan dapat menjadi norma yang turut menentukan kelakuan guru.
Walaupun zaman berubah namun kelakuan guru yang menyimpang dari pada apa yang dianggap sopan selalu mendapat sorotan yang tajam. Guru selalu diharap agar menjadi teladan bagi anak didik.[3]
D.    Guru Sebagai Penggerak Perubahan
Guru merupakan motor penggerak yang sangat dahsyat yang dapat mengguncang kepada perubahan. Perubahan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif. Tentunya yang diharapkan adalah perubahan ke arah positif dimana anak didik yang dihasilkannya mampu melakukan perubahan sikap dan motivasi di dalam menemukan jati dirinya. Muara dari perubahan itu adalah terbentuknya karakter anak didik yang terpuji dan mampu memberikan yang terbaik kepada orang lain.
Pendidikan di Indonesia membutuhkan guru yang menghayati tugasnya sebagai suatu panggilan hati. Pekerjaan disebut sebagai panggilan hati nurani bila pekerjaan itu mengembangkan orang lain ke arah kesempurnaan. Ini berarti guru pertama-tama harus mengembangkan anak didik yang dibimbing untuk berkembang menjadi sempurna baik dalam bidang pengetahuan maupun kehatinuranian yang lebih menyeluruh. Disini guru menjalankan fungsinya sebagai pendidik an pengajar.
Dalam istilah driyarkarya, guru disini menjalankan fungsinya membantu  anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Hal ini sesuaimakna pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Ini berarti, bagi guru pertama-tamayang dipikirkan, yang diusahakan dalam tugasnya adalah bagaimana agar siswa mereka berkembang dan berhasil. Apapun yang terjadi dan apapun situasinya, guru pertama-tama bukann berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ank didik.
Bagi guru yang menjalankan tugasnya sebagai panggilan nurani, ia rela menyediakan banyak waktu, tenaga, dan pikiran bagi perkembangan dan keberhasilan anak didik. Maka bila ada anak didik yang nakal yang tidak cepat berkembang, yang lambat memilih ia akan mencari jalan bagaimana dapat membantu mereka.
Dalam penghayatan panggilan nurani ini, guru akan penuh dedikasi dan loyalitas bagi perkembangan anak didik, tidak kikir dalam mengembangkan anak didik. Dalam bahasa yang lebih religius, guru yang menghayati panggilan ini akan sungguh mencintai anak didiknya untuk maju. Anak-anak yang terbelakang, yang kurang berkembang, yang mempunyai persoalan akan selalu dibantu. Dan kepuasan guru justru jika berhasil membantu mereka maju menghadapi persoalannya.[4]
E.     Revitalisasi Peranan Guru Di Sekolah Dan Masyarakat
Beberapa pekan terakhir ini, kiprah dunia pendidikan sering tercoreng oleh perlakukan negatif komponen dalam pendidikan itu sendiri. Kekerasan atau perlakuan intimidasi seorang guru dengan murid maupun sesama murid. Banyak terjadi perbuatan-perbuatan yang kurang baik ataupun perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang guru, sehingga pada saat ini mengakibatkan turunya citra baik dan kewibawaan seorang guru di sekolah maupun dalam masyarakat. Guru yang dalam pemaknaan pantun bahasa jawa “digugu lan ditiru” telah baralih pada pemaknaan “wagu tur saru”.
Pepatah juga mengatakan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jadi posisi seorang guru sebanarnya harus manjadi teladan yang baik, karena itu akan diteladani oleh orang lain, akan tetapi bagaima bisa berwibawa apabila teladan tersebut adalah teladan negatif yang secara etika tidaklah pantas untuk ditiru. Oleh karena hal-hal tersebut perlu adanya revitalisasi atau pemulihan fungsi kembali pada peran seorang guru.
Dalam revitalisasi peranan guru disekolah maupun dimasyarakat, dapat diawali dengan penguasaan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Apabila berdasarkan Undang-Undang No.14 tahun 2005 tentang kualifikasi akademik dan kompetensi guru, menetapkan standar kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Jadi seorang guru itu menguasai teori-teori pengajaran, memiliki kepribadian yang tangguh sehingga dapat terhindar dari segala perbuatan yang melanggar etika, seorang guru juga memiliki rasa sosial kemanusiaan, serta seorang guru harus bisa menjalankan pekerjaannya secara profesional.
Menurut Sudjarwadi (2003), tiga hal yang harus dikuasai  dalam upaya revitalisasi peranan guru. Yaitu, guru dengan kemampuannya diharapkan dapat mengembangkan dan membangun tiga pilar keterampilan :
Pertama, Learning skills, yaitu keterampilan mengembangkan dan mengola pengetahuan dan pengalaman serta kemampuan dalam menjalani belajar sepanjang hayat.
Kedua, Thinking skills, yaitu keterampilan berpikir kritis, kreatif dan inovatif untuk menghasilkan keputusan dan pemecahan masalah secara optimal.
Ketiga, Living skills, yaitu keterampilan hidup yang mencakup kematangan emosi dan sosial yang bermuara pada daya juang, tanggungjawab dan kepekaan sosil yang tinggi.
Dengan upaya-upaya tersebut, apabila dilaksanakan secara maksimal maka akan mengantarkan pada tercapainya revitalisasi peranan guru di sekolah dan masyarakat. Yang pada akhirnya akan kembali mengharumkan citra baik dan kewibawaan seorang guru di sekolah maupun dalam masyarakat, sehingga sangatlah pantas bagi guru tersebut untuk digugu dan ditiru.[5]













BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Peranan guru disekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik dan sebagai pegawai. Yang paling utama ialah kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik, yaknisebagai guru. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis, intelektual, dan sosial lebih tinggi dari pada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Guru sebagai seorang pendidik dan pembina generasi muda harus menjadi teladan didalam sekolah maupun diluar sekolah.
Peranan guru dalam masyarakat antara lain bergantung pada gambaran masyarakat tentang kedudukan guru. Kedudukan sosial guru berbeda dari negara ke negara, dari zaman ke zaman. Pada zaman Hindu misalnya guru yang menduduki tempat yang sangat terhormat sebagai satu-satunya sumber ilmu.










DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Sosiologi Pendidikan,  Jakarta PT. Bumi Angkasa. 2009
Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, Jakarta, Kharisma Putra Utama. 2009
Isjoni, Menuju Masyarakat Belajar, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 2009


[1] Nasution, Sosiologi Pendidikan,  2009,  (Jakarta PT. Bumi Angkasa), Hal. 91-94.
[2] Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, 2009, (Jakarta, Kharisma Putra Utama), Hal. 155-159
[3] Nasution. S, Op.Cit, Hal. 95-96
[4] Isjoni, Menuju Masyarakat Belajar, 2009, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar). Hal. 109-111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar