Selasa, 03 Mei 2016

Menelaah Alam Baharu



 BAB I
PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang
Manusia sebagai khalifah di bumi tentulah tersebar diseluruh penjuru alam semesta ini. Manusia dituntut untuk selalu menjaga apa yang ada di alam ini dengan tidak merusak apa yang ada di dalamnya. Namun kepercayaan yang diberikan oleh Allah itu terkadang ada yang tidak dijalankan oleh sebagian manusia, dengan selalu merusak apa yang ada di alam ini demi kepuasan egonya sendiri. Hal ini menyebabkan dampak negatif terhadap kelestarian hayati yang ada di alam ini, tetapi tidak sedikit pula manusia yang betapa pentingnya kelestarian alam ini, sehingga mereka selalu menjaga apa yang ada di alam ini. Hal itulah yang menyebabkan alam ini selalu berubah, entah itu berubah untuk hal yang positif atau bahkan yang negatif.
Dewas ini, sering terjadi berbagai macam bencana di alam ini. Hal ini tentunya karena ulah tangan manusianya sendiri atau mungkin bisa saja karena umur alam yang sudah tua. Hal itu pula yang menyebabkan perubahan pada alam ini. Dalam setiap perubahan tentunya menghasilkan sesuatu yang baru. Karena itulah alam selalu mengalami perubahan yang nantinya bisa berdampak positif dan negatif bagi manusia. Pembaharuan itulah yang nantinya akan dibahas dalam makalah ini.




B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah definisi alam dan penciptaan alam, serta perubahannya ?
2.      Mengapa alam ini dikatakan baharu ?
C.  Tujuan
Untuk mengetahui apa defini dari alam, penciptaan alam serta perubahannya, dan juga untuk mengetahui alasan mengapa alam ini dikatakan baharu.
  
  
  
  
  
BAB II
LANDASAN TEORI
A.   Pengenalan Makna Berubah
Ketika kita mendengar kata berubah, tentu yang ada dibenak pikiran kita adalah adanya perubahan wujud, keadaan, situasi, ataupun yang lain. Namun secara spesifik berubah dapat diartikan sebagai sesuatu yang beranjak dari keadaan semula menjadi keadaan yang baru. Berubah tentunya bisa menjadikan kita menjadi ketakutan, kesedihan, kegembiraan, kegagalan, maupun kesuksesan. Berubah bisa menghasilkan sesuatu atau keadaan yang positif dan juga bisa menghasilkan sesuatu atau keadaan yang negatif, tergantung bagaimana kita memaknai perubahan itu. Jika kita berubah menuju ke hal yang positif tentu kita akan dapat merasakan manfaat dari perubahan itu, sebaliknya jika kita berubah menuju ke hal yang negatif tentunya yang akan didapatkan hanya kemudharatan yang sama sekali tidak ada manfaatnya.
Berubah bisa terjadi secara langsung (intern), maupun secara tidak langsung (ekstern). Maksud dari secara langsung adalah perubahan itu terjadi karena dirinya sendiri yang memang menginginkan perubahan itu terjadi. Hal semacam ini biasanya bertujuan agar memperoleh kepuasan bagi dirinya dengan perubahan yang diinginkannya. Misalnya ketika seseorang selalu merasa gagal dalam melakukan segala sesuatu , kemudian dengan tekat yang kuat untuk berubah, akhirnya seseorang itu bisa berubah yang semula selalu merasa gagal menjadi seseorang yang sukses. Tentunya hal semacam itu dapat menjadikan seseorang itu merasakan kepuasan atas perubahannya.
Selanjutnya, berubah yang terjadi secara tidak langsung (ekstern) adalah perubahan itu terjadi bukan karena kemauan / keinginan sendiri melainkan karena faktor lain, misalnya secara kebetulan, atau faktor lingkungan / alam. Sebagai contoh misalnya terjadinya gunung meletus menjadikan pohon-pohon disekitar daerah yang tadinya tumbuh lebat menjadi mati dikarenakan terkena hempasan abu vulkanik. Perubahan secara langsung maupun tidak langsung sama-sama dapat menghasilkan sesuatu / keadaan yang positif dan negatif. Perubahan bisa dihasilkan dalam waktu yang lama ataupun yang yang singkat, tergantung situasi / keadaan dan bagaimana bentuk perubahannya. Sesuatu / keadaan yang telah berubah tidak menutup kemungkinan akan kembali lagi ke wujud semula, namun yang tetap harus di garis bawahi yaitu bahwa hakikat berubah itu pasti akan menghasilkan / keadaan yang baru.
B.  Apa itu Baharu ?     
Mendengar kata baharu atau baru yang terlintas dalam pikiran yaitu sesuatu yang bukan bekas atau yang pernah ada, bukan sesuatu yang pernah dirasakan oleh indera kita, bukan sesuatu yang pernah dimiliki, dijumpai ataupun yang lainnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa baru adalah sesuatu yang belum pernah ada, belum pernah dirasakan, ataupun belum pernah terjadi. Lebih spesifiknya lagi baharu dapat diartikan sebagai sesuatu yang adanya diawali dari sesuatu yang tidak ada. Jadi jelas bahwa baharu itu terjadi karena adanya perubahan, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara baharu dan berubah selalu berkaitan.
Setelah mengetahui dan mengenali apa makna dari berubah dan baharu. Itu akan mempermudah kita dalam mengkaji objek-objek yang telah mengalami perubahan dan pembaharuan. Namun dalam hal ini pemakalah lebih menekankan tentang perubahan dan pembaharuan yang terjadi pada alam.



BAB III
PEMBAHASAN
A. Definisi Alam dan Penciptaannya, serta Perubahannya
Menurut orang Babylonia (± tahun 700 SM), yang dikutip oleh Ahmad Ta’rifin,MA dalam bukunya yang berjudul Ilmu Alamiah Dasar, alam semesta atau  jagad raya adalah suatu ruangan yang maha besar, yang di dalamnya terdapat kehidupan biotik dan abiotik serta terjadi segala peristiwa baik yang dapat diungkap manusia ataupun tidak.[1] Sedangkan menurut pendapat lain, alam adalah segalanya selain Allah yang sifatnya baru, memerlukan yang lain, dan yang dapat berubah.[2] Jadi dapat disimpulkan bahwa alam adalah suatu ruangan yang maha besar yang di dalamnya terdapat segalanya selain Allah  yangsifatnya baru, memerlukan yang lain, dan yang dapat berubah.
Ketika membahas tentang masalah alam, tentu yang menjadi pertanyaan adalah alam itu terbuat dari apa atau bagaimana pembentukan alam itu ?. untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya ada dua jawaban yang perlu dijabarkan, yang pertama yaitu penciptaan alam menurut para ilmuan, dan yang kedua yaitu penciptaan alam menurut Al-qur’an. Ahmad Ta’rifin,MA dalam bukunya menjelaskan secara singkat mengeni apa penjabaran dari hal tersebut yakni para ilmuan mempunyai teori-teori terbentuknya alam semesta ini.
1.      Teori Dentuman (ledakan)
Maksudnya adalah ketika suatu massa yang sangat besar di jagad raya dan mempunyai berat jenis yang sangat besar, meledak dengan hebatnya akibat adanya reaksi inti. Massa yang meledak itu kemudian berserakan dan mengembang dengan sangat cepat serta menjauhi pusat ledakan atau inti ledakan. Setelah berjuta-juta tahun, massa yang berserakan itu berbentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang relatif kecil dari massa semula, Kelompok itu disebut galaksi.
 Jika dikaitkan dengan penciptaan alam menurut Al-qur’an, teori itu sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam QS.Al-Anbiya’:30, yang berbunyi  
óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ  
Artinya: “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman ?”
2.      Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini diambil berdasarkan adanya suatu siklus dari alam semesta yaitu masa ekspansif dan masa kontraksi. Dalam jangka waktu 30 milyar tahun dalam masa ekspansi, terbentuklah galaksi beserta bintang-bintangnya. Ekspansi tersebut didukung oleh adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa kontraksi, terjadi galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk meredup, sehingga unsur-unsur yang terbentuk menyusut dengan menimbulkan tenaga yang berupa panas yang sangat tinggi. Jika dikaitkan dengan penciptaan alam menurut Al-qur’an, teori itu sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam QS.Adz-Zariyaat, yang berbunyi:





uä!$uK¡¡9$#ur $yg»oYøt^t/ 7&÷ƒr'Î/ $¯RÎ)ur tbqãèÅqßJs9 ÇÍÐÈ
Artinya: “dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”.[3]
Dari penjabaran di atas maka timbul pertanyaan lagi yaitu apakah dari penciptaan alam itu nantinya terjadi perubahan ? jawabannya adalah iya, karena seiring berjalannya waktu segala sesuatu mengalami perubahan, diantaranya yaitu perubahan pada alam semesta ini. Perubahan yang nampak jelas yaitu perubahan aantara siang dan malam. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa alaam ini selalu mengalami perubahan. Contoh yang lain yaitu ketika terjadi penebangan liar di hutan, itu akan menjadikan perubahan konstruksi tanah yang tadinya kuat karena ditahan oleh akar pohon, menjadi konstruksi tanah yang lemah bahkan rawan longsor karena tidak ada penyangganya. Kedua contoh ini mebuktikan bahwa perubahan alam ini bisa terjadi secara alami dan bisa pula terjadi karena campur tangan manusia. Oleh karena itu, manusia sebagai khalifah di bumi alangkah bijaknya jika selalu menjaga dan melestarikan alam ini, agar anak cucu kita nanti bisa merasakan keindahan alam semesta ini.
B. Alam ini Baharu
  Seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan di atas bahwasannya aakam adalah suatu ruangan yang maha besar yang di dalamnya terdapat segalanya selain Allah yang sifatnya baharu, memerlukan yang lain, dan yang dapat berubah. Dari pengertian tersebut sudah cukup menjelaskan bahwa alam ini tidaklah statis melainkan dinamis. Dinamis di sini maksudnya bahwa alam itu selalu mengalami perubahan dari masa ke masa, hal itu ditandai dengan adanya pembaharuan-pembaharuan pada alam. Pembaharuan itu terjadi tentulah karena perubahan-perubahan itu, yang mana hal tersebut terjadi karena akibat dari siklus alam ataupun karena campur tangan manusia.
Pembaharuan alam ini terlihat ketika dewasa ini terjadi pemanasan global di bumi ini, kemudian untuk menanggulanginya dengan cara penanaman pohon ssebanyak-banyaknya dengan harapan bumi ini hijau kembali. Walaupun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil, namun itu bisa dikatakan sebagai waujud dari pembaharuan alam yang mestinya harus selalu dilakukan. Baru tidak selalu menuju ke perubahan yang positif, adakalanya baru juga timbul karena perubahan yang negatif. Misalnya saja pembaharuan pada wilayah pantai saat ini yang air lautnya sudah sangat jauh menjorok ke daratan, itu semua terjadi karena sudah minimnya tanaman bakau di pantai yang seharusnya berfungsi menahan air laut ketika terjadi abrasi pantai. Pembaharuan seperti itu tentu tidak akan terjadi jika manusianya mau menjaga lingkugan di sekitarnya. Jadi baharunya alam itu adakalanya bermanfaat bagi manusia dan adakalanya merugikan manusia. Semua itu tergantung pada pembaharuan alam yang mengarah ke hal positif atau hal yang negatif. 



BAB IV
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Bahwasannya perubahan dan pembaharuan itu bisa terjadi pada apapun, salah satunya yaitu perubahan dan pembaharuan pada alam yang mana bisa mendatangkan manfaat ataupun kemundharatan. Manfaat dan mudharat itu bisa disebabkan oleh manusia dan dapat dirasakan pula oleh manusia itu sendiri. Sehingga jika ingin selalu merasakan manfaat dari perubahan dan pembaharuan itu, serta tidak ingin merasakan kemudharatannya, maka sebagai manusia haruslah senantiasa menjaga dan melestarikan alam ini dengan tidak merusaknya.


BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Ta’rifin, Ahmad, ILMU ALAMIAH DASAR, Pekalongan: Duta Media Utama
https://zahayu.wordpress.com/pengertian-alam-semesta/. Diakses, 26 April 2015, pukul 09.00 WIB



[1] Ahmad Ta’rifin, ILMU ALAMIAH DASAR, cet.2, (Pekalongan: Duta Media Utama) hlm.66
[2] https://zahayu.wordpress.com/pengertian-alam-semesta/. Diakses, 26 April 2015, pukul 09.00 WIB
[3] Ahmad Ta’rifin, op.cit., hlm.68-85

Tidak ada komentar:

Posting Komentar