BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai
khalifah di bumi tentulah tersebar diseluruh penjuru alam semesta ini. Manusia
dituntut untuk selalu menjaga apa yang ada di alam ini dengan tidak merusak apa
yang ada di dalamnya. Namun kepercayaan yang diberikan oleh Allah itu terkadang
ada yang tidak dijalankan oleh sebagian manusia, dengan selalu merusak apa yang
ada di alam ini demi kepuasan egonya sendiri. Hal ini menyebabkan dampak
negatif terhadap kelestarian hayati yang ada di alam ini, tetapi tidak sedikit
pula manusia yang betapa pentingnya kelestarian alam ini, sehingga mereka
selalu menjaga apa yang ada di alam ini. Hal itulah yang menyebabkan alam ini
selalu berubah, entah itu berubah untuk hal yang positif atau bahkan yang
negatif.
Dewas ini,
sering terjadi berbagai macam bencana di alam ini. Hal ini tentunya karena ulah
tangan manusianya sendiri atau mungkin bisa saja karena umur alam yang sudah
tua. Hal itu pula yang menyebabkan perubahan pada alam ini. Dalam setiap
perubahan tentunya menghasilkan sesuatu yang baru. Karena itulah alam selalu
mengalami perubahan yang nantinya bisa berdampak positif dan negatif bagi
manusia. Pembaharuan itulah yang nantinya akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
definisi alam dan penciptaan alam, serta perubahannya ?
2.
Mengapa
alam ini dikatakan baharu ?
C. Tujuan
Untuk
mengetahui apa defini dari alam, penciptaan alam serta perubahannya, dan juga
untuk mengetahui alasan mengapa alam ini dikatakan baharu.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengenalan Makna Berubah
Ketika kita
mendengar kata berubah, tentu yang ada dibenak pikiran kita adalah adanya
perubahan wujud, keadaan, situasi, ataupun yang lain. Namun secara spesifik
berubah dapat diartikan sebagai sesuatu yang beranjak dari keadaan semula
menjadi keadaan yang baru. Berubah tentunya bisa menjadikan kita menjadi
ketakutan, kesedihan, kegembiraan, kegagalan, maupun kesuksesan. Berubah bisa
menghasilkan sesuatu atau keadaan yang positif dan juga bisa menghasilkan
sesuatu atau keadaan yang negatif, tergantung bagaimana kita memaknai perubahan
itu. Jika kita berubah menuju ke hal yang positif tentu kita akan dapat
merasakan manfaat dari perubahan itu, sebaliknya jika kita berubah menuju ke
hal yang negatif tentunya yang akan didapatkan hanya kemudharatan yang sama
sekali tidak ada manfaatnya.
Berubah bisa
terjadi secara langsung (intern), maupun secara tidak langsung (ekstern).
Maksud dari secara langsung adalah perubahan itu terjadi karena dirinya sendiri
yang memang menginginkan perubahan itu terjadi. Hal semacam ini biasanya
bertujuan agar memperoleh kepuasan bagi dirinya dengan perubahan yang
diinginkannya. Misalnya ketika seseorang selalu merasa gagal dalam melakukan
segala sesuatu , kemudian dengan tekat yang kuat untuk berubah, akhirnya
seseorang itu bisa berubah yang semula selalu merasa gagal menjadi seseorang
yang sukses. Tentunya hal semacam itu dapat menjadikan seseorang itu merasakan
kepuasan atas perubahannya.
Selanjutnya,
berubah yang terjadi secara tidak langsung (ekstern) adalah perubahan itu
terjadi bukan karena kemauan / keinginan sendiri melainkan karena faktor lain,
misalnya secara kebetulan, atau faktor lingkungan / alam. Sebagai contoh
misalnya terjadinya gunung meletus menjadikan pohon-pohon disekitar daerah yang
tadinya tumbuh lebat menjadi mati dikarenakan terkena hempasan abu vulkanik.
Perubahan secara langsung maupun tidak langsung sama-sama dapat menghasilkan
sesuatu / keadaan yang positif dan negatif. Perubahan bisa dihasilkan dalam
waktu yang lama ataupun yang yang singkat, tergantung situasi / keadaan dan
bagaimana bentuk perubahannya. Sesuatu / keadaan yang telah berubah tidak
menutup kemungkinan akan kembali lagi ke wujud semula, namun yang tetap harus
di garis bawahi yaitu bahwa hakikat berubah itu pasti akan menghasilkan /
keadaan yang baru.
B. Apa itu Baharu ?
Mendengar kata
baharu atau baru yang terlintas dalam pikiran yaitu sesuatu yang bukan bekas
atau yang pernah ada, bukan sesuatu yang pernah dirasakan oleh indera kita,
bukan sesuatu yang pernah dimiliki, dijumpai ataupun yang lainnya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa baru adalah sesuatu yang belum pernah ada, belum pernah
dirasakan, ataupun belum pernah terjadi. Lebih spesifiknya lagi baharu dapat
diartikan sebagai sesuatu yang adanya diawali dari sesuatu yang tidak ada. Jadi
jelas bahwa baharu itu terjadi karena adanya perubahan, dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa antara baharu dan berubah selalu berkaitan.
Setelah
mengetahui dan mengenali apa makna dari berubah dan baharu. Itu akan mempermudah
kita dalam mengkaji objek-objek yang telah mengalami perubahan dan pembaharuan.
Namun dalam hal ini pemakalah lebih menekankan tentang perubahan dan
pembaharuan yang terjadi pada alam.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Definisi Alam dan Penciptaannya, serta Perubahannya
Menurut orang
Babylonia (± tahun 700 SM), yang dikutip oleh Ahmad Ta’rifin,MA dalam bukunya
yang berjudul Ilmu Alamiah Dasar, alam semesta atau jagad raya adalah suatu ruangan yang maha
besar, yang di dalamnya terdapat kehidupan biotik dan abiotik serta terjadi
segala peristiwa baik yang dapat diungkap manusia ataupun tidak.[1]
Sedangkan menurut pendapat lain, alam adalah segalanya selain Allah yang
sifatnya baru, memerlukan yang lain, dan yang dapat berubah.[2]
Jadi dapat disimpulkan bahwa alam adalah suatu ruangan yang maha besar yang di
dalamnya terdapat segalanya selain Allah
yangsifatnya baru, memerlukan yang lain, dan yang dapat berubah.
Ketika membahas
tentang masalah alam, tentu yang menjadi pertanyaan adalah alam itu terbuat
dari apa atau bagaimana pembentukan alam itu ?. untuk menjawab pertanyaan itu,
sebenarnya ada dua jawaban yang perlu dijabarkan, yang pertama yaitu penciptaan
alam menurut para ilmuan, dan yang kedua yaitu penciptaan alam menurut
Al-qur’an. Ahmad Ta’rifin,MA dalam bukunya menjelaskan secara singkat mengeni
apa penjabaran dari hal tersebut yakni para ilmuan mempunyai teori-teori
terbentuknya alam semesta ini.
1.
Teori
Dentuman (ledakan)
Maksudnya adalah ketika suatu massa yang sangat besar di jagad raya
dan mempunyai berat jenis yang sangat besar, meledak dengan hebatnya akibat
adanya reaksi inti. Massa yang meledak itu kemudian berserakan dan mengembang
dengan sangat cepat serta menjauhi pusat ledakan atau inti ledakan. Setelah
berjuta-juta tahun, massa yang berserakan itu berbentuk kelompok-kelompok
dengan berat jenis yang relatif kecil dari massa semula, Kelompok itu disebut
galaksi.
Jika dikaitkan dengan
penciptaan alam menurut Al-qur’an, teori itu sesuai dengan apa yang dijelaskan
dalam QS.Al-Anbiya’:30, yang berbunyi
óOs9urr& tt tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( xsùr& tbqãZÏB÷sã ÇÌÉÈ
Artinya: “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang
hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman ?”
2. Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini diambil berdasarkan adanya suatu siklus dari alam semesta
yaitu masa ekspansif dan masa kontraksi. Dalam jangka waktu 30 milyar tahun
dalam masa ekspansi, terbentuklah galaksi beserta bintang-bintangnya. Ekspansi
tersebut didukung oleh adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hydrogen
yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa kontraksi,
terjadi galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk meredup, sehingga
unsur-unsur yang terbentuk menyusut dengan menimbulkan tenaga yang berupa panas
yang sangat tinggi. Jika dikaitkan dengan penciptaan alam menurut Al-qur’an, teori itu
sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam QS.Adz-Zariyaat, yang berbunyi:
uä!$uK¡¡9$#ur $yg»oYøt^t/ 7&÷r'Î/ $¯RÎ)ur tbqãèÅqßJs9 ÇÍÐÈ
Artinya: “dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan
Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”.[3]
Dari penjabaran
di atas maka timbul pertanyaan lagi yaitu apakah dari penciptaan alam itu
nantinya terjadi perubahan ? jawabannya adalah iya, karena seiring berjalannya
waktu segala sesuatu mengalami perubahan, diantaranya yaitu perubahan pada alam
semesta ini. Perubahan yang nampak jelas yaitu perubahan aantara siang dan
malam. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa alaam ini selalu mengalami
perubahan. Contoh yang lain yaitu ketika terjadi penebangan liar di hutan, itu
akan menjadikan perubahan konstruksi tanah yang tadinya kuat karena ditahan
oleh akar pohon, menjadi konstruksi tanah yang lemah bahkan rawan longsor
karena tidak ada penyangganya. Kedua contoh ini mebuktikan bahwa perubahan alam
ini bisa terjadi secara alami dan bisa pula terjadi karena campur tangan
manusia. Oleh karena itu, manusia sebagai khalifah di bumi alangkah bijaknya
jika selalu menjaga dan melestarikan alam ini, agar anak cucu kita nanti bisa
merasakan keindahan alam semesta ini.
B.
Alam ini Baharu
Seperti yang telah dijelaskan dalam
pembahasan di atas bahwasannya aakam adalah suatu ruangan yang maha besar yang
di dalamnya terdapat segalanya selain Allah yang sifatnya baharu, memerlukan
yang lain, dan yang dapat berubah. Dari pengertian tersebut sudah cukup
menjelaskan bahwa alam ini tidaklah statis melainkan dinamis. Dinamis di sini
maksudnya bahwa alam itu selalu mengalami perubahan dari masa ke masa, hal itu
ditandai dengan adanya pembaharuan-pembaharuan pada alam. Pembaharuan itu
terjadi tentulah karena perubahan-perubahan itu, yang mana hal tersebut terjadi
karena akibat dari siklus alam ataupun karena campur tangan manusia.
Pembaharuan
alam ini terlihat ketika dewasa ini terjadi pemanasan global di bumi ini,
kemudian untuk menanggulanginya dengan cara penanaman pohon ssebanyak-banyaknya
dengan harapan bumi ini hijau kembali. Walaupun upaya tersebut belum sepenuhnya
berhasil, namun itu bisa dikatakan sebagai waujud dari pembaharuan alam yang
mestinya harus selalu dilakukan. Baru tidak selalu menuju ke perubahan yang
positif, adakalanya baru juga timbul karena perubahan yang negatif. Misalnya
saja pembaharuan pada wilayah pantai saat ini yang air lautnya sudah sangat
jauh menjorok ke daratan, itu semua terjadi karena sudah minimnya tanaman bakau
di pantai yang seharusnya berfungsi menahan air laut ketika terjadi abrasi
pantai. Pembaharuan seperti itu tentu tidak akan terjadi jika manusianya mau
menjaga lingkugan di sekitarnya. Jadi baharunya alam itu adakalanya bermanfaat
bagi manusia dan adakalanya merugikan manusia. Semua itu tergantung pada
pembaharuan alam yang mengarah ke hal positif atau hal yang negatif.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwasannya
perubahan dan pembaharuan itu bisa terjadi pada apapun, salah satunya yaitu
perubahan dan pembaharuan pada alam yang mana bisa mendatangkan manfaat ataupun
kemundharatan. Manfaat dan mudharat itu bisa disebabkan oleh manusia dan dapat
dirasakan pula oleh manusia itu sendiri. Sehingga jika ingin selalu merasakan
manfaat dari perubahan dan pembaharuan itu, serta tidak ingin merasakan
kemudharatannya, maka sebagai manusia haruslah senantiasa menjaga dan
melestarikan alam ini dengan tidak merusaknya.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Ta’rifin, Ahmad, ILMU ALAMIAH DASAR,
Pekalongan: Duta Media Utama
https://zahayu.wordpress.com/pengertian-alam-semesta/. Diakses, 26 April 2015, pukul 09.00 WIB
[1]
Ahmad Ta’rifin, ILMU ALAMIAH DASAR, cet.2, (Pekalongan: Duta Media
Utama) hlm.66
[2]
https://zahayu.wordpress.com/pengertian-alam-semesta/.
Diakses, 26 April 2015, pukul 09.00 WIB
[3]
Ahmad Ta’rifin, op.cit., hlm.68-85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar