BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Agama islam yang dibawa oleh
nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang
sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang
bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupam ini secara lebih
bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
Seiring perubahan waktu dan
perkembangan zaman, agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif
didalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Agama tidak boleh
hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam
khutbah, melainkan secara konsepsional menunjukan cara-cara yang paling efektif
dalam memecahkan masalah.
Diketahui bahwa islam sebagai agama yang memiliki banyak dimensi,
yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal pikiran, ekonomi, politik, ilmu
pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, kehidupan rumah tangga, dan masih banyak
lagi. Untuk memahami berbagai dimensi ajaran islam tersebut jelas memerlukan
berbagai pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu
pendekatannya adalah pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan
pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu
bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Agama, Islam, dan Filsafat
?
2. Bagaimana pendekatan
filosofis dan peran utamanya bagi agama ?
3. Bagaimana problematika pendekatan filosofis dalam studi agama ?
C.
TUJUAN
1. Agar mahasiswa mengetahui pengertian Agama, Islam, dan Filsafat
2. Agar mahasiswa mampu memahami pendekatan filosofis dan peran
utamanya bagi agama
3. Agar mahasiswa mengetahui problematika pendekatan filosofis dalam studi
agam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama, Islam dan Filsafat
1.
Pengertian
Agama
Kata “Agama” berasal dari bahasa sansekerta, “a” yang berarti tidak
dan “gam” yang berarti pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun dalam
kehidupan manusia. Dick Hartoko menyebut pengertian agama dengan religi, yaitu
ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “ yang kudus” dan hubungan
itu direalisasikan dalam bentuk ibadah. Sedangkan menurut Harun Nasution ada
delapan definisi untuk agama, yaitu :
a.
Pengakuan
terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.
b.
Pengakuan
terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
c.
Mengikatkan
diri pada suatu bentuk hidup yang mengandunag pengakuan pada suatu sumber yang
berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
d.
Kepercayaan
pada suatu ikatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
e.
Sistem
tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib.
f.
Pengakuan
terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasal dari kekuatan ghaib.
g.
Pemujaan
terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan takut terhadap
kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
h.
Ajaran-ajaran
yang di wahyuan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
Dengan demikian dapat di pahami bahwa agama (din) adalah segala
peraturan berupa hukum yang harus dipatuhi, baik dalam bentuk perintah yang
wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan dan ada
pembalasannya dengan unsur-unsur agama, yaitu:
1)
Kekuatan
ghaib
2)
Hubungan
denganYang Ghaib
3)
Pemujaan
atau penyembahan terhadap Yang Ghaib
4)
Adanya
yang kudus dan suci (kitab suci, tempat ibadah, dan sebagainya).[1]
2.
Pengertian
Islam
Islam dalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah SWT.
Dengan lebih dari seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, Islam menjadi
agama terbbesar kedua di dunia setelah agama kristen.
Islam memiliki arti “penyerahan” atau penyerahan diri sepenuhnya
kepada Tuhan. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti
seorang yang tunduk kepada Tuhan, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi
laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.
Islam mengajarkan bahwa Allah SWT, menurunkan firman-Nya kepada
manusia melalui para nabi dan rasul utussan-Nya dan menyakini dengan
sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke
dunia oleh Allah SWT.[2]
3.
Pengertian
Filsafat
Filsafat termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya,
karena itu titik tolak untuk memahami dan mengerti filsafat adalah meninjau
dari segi etimologis. Tinjauan secara etimologi adalah membahas sesuatu istilah
atau kata dari segi asal-usul kata itu.[3]
Secara etimologis, kata filsafat atau falsafah berasal dari bahasa
Yunani, yakni dari kata philo yang berarti cinta, suka, dan senang,
serta kata sophia yang berarti pengetahuan dan kebijaksanaan. Dengan
demikian, philosophia berarti cinta, senang, atau suka kepada
pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan.[4] Menurut
Sidi Gazalba, filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan
universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah, atau hakikat mengenai
segala sesuatu yang ada. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat
pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu
yang berada dibalik objek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar,
asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah.
Sebagai contoh, kita jumpai berbagai merk pulpen dengan kualitas
dan harganya yang berlain-lainan, namun inti semua pulpen itu adalah sebagai
alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercukuplah semua nama dan jenis
pulpen tersebut. Contoh lain, kita jumpai berbagai bentuk rumah dengan kualitas
yang berbeda, tetapi semua rumah itu intinya adalah sebagai tempat tinggal.
Kegiatan berfikir untuk menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam. Louis
O.Kattsof mengatakan bahwa kegiatan kefilsafatan ialah merenunng, tetapi merenung
bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat
untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematik, dan
universal.
Berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan
dalam memahami ajaran agama, deengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari
ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis
yang demikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Kita misalnya
membaca buku berjudul Hikmah Al-Tasyri’ wa Falsafatuhu yang ditulis oleh
Muhammad Al-Jurjawi. Dalam buku tersebut Al-Jurjawi berupaya mengungkapkan
hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran agama misalnya mengajarkan
agar seseorang melaksanakan shalat berjama’ah. Tujuannya antara lain agar
seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain.
Dengan mengerjakan puasa misalnya agar seseorang dapat merasakan lapar yang
selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan.
Deemikian pula ibadah haji yang dilaksanakan di kota Makkah, dalam waktu yang
bersamaan, dengan bentuk dan gerak ibadah yang sama dengan yang dikerjakan
lainnya dimaksudkan agar orang yang mengerjakan berpandangan luas, merasa
bersaudara dengan sesama Muslim dari seluruh dunia.
Makna yang demikian ini dapat dijumpai melalui pendekatan yang
bersifat filosofis. Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini seseorang akan
dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap
hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian ketika
seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual
yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari
suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan, dan daya
spiritualitas yang dimiliki seseorang.
Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau
menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari
segi batin yang bersifat esoterik. Sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi
lahiriah yang bersifat eksoterik. Islam sebagai agama yang banyak menyuruh
penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan
pendekatan filosofis dalam memahami agamanya.[5]
B.
Pendekatan Filosofis Dan Peran Utamanya Bagi Agama
Studi agama pada
intinya adalah belajar atau mempelajari, memahami, dan mendalami gejala-gejala
agama, baik gejala keragaan maupun kejiwaan. Sebab, dalam realitasnya bagi
kehidupan manusia, kehadiran agama adalah sebatas pada gejala-gejala agama dan
keagamaannya itu, yang dari gejala agama serta fenomena keagamaan itulah
manusia mengekspresikan religiussitasnya sehingga ia kemudian disebut “beragama”.
Hal ini mengharuskan adanya unsur penelitian atas aspek-aspek suatu agama
secara mendalam, terutama yang terkait dengan simbolitas keagamaan. Tentu bahwa
Islam sebagai agama samawi terakhir, justru merupakan jenis agama yang paling
terbuka dengan semua jenis pendekatan dalam penelitian agama.
Bahwa semua agama, yang juga termasuk Islam memiliki dua aspek
penting, yaitu aspek normatif (wahyu), dan aspek historis (bagaimana wahyu itu
hadir). Sikap keberagaman meniscayakan orang beragama untuk memahami dua hal
tersebut jika ingin memiliki sikap keagamaan yang paripurna. Aspek normatif
mengharuskan dan terkait erat dengan historisitas, karena kehadirannya di
kancah dunia berhubungan dengan waktu, tempat, dan sasaran, yang semua itu
berdimensi sejarah. Sementara aspek historisitas keagamaan tidak mungkin
meninggalkan aspek wahyu, terutama ketika berhubungan dengan perilaku keagamaan
pemeluknya. Maka, salah satu unsur pokok yang berfungsi sebagai penghubung
diantara keduanya adalah pendekatan filosofis dalam pemahaman dan studi
keagamaan. Urgensi pendekatan filosofis ini tentu saja menunjukkan pula
pentingnya filsafat dalam kajian Islam.
C.
Problematika Pendekatan Filosofis Dalam Studi Agama
Berdasarkan
pertimbangan di atas, maka anggapan bahwa agama tidak bisa di teliti, merupakan
anggapan yang kurang benar. Anggapan ini bukan hanya terjadi di negara-negara,
seperti Indonesia. Dahulu di Eropa pun juga pernah terdapat anggapan serupa.
Rop Fisher juga menyebutkan penolakan sebagian agamawan barat terhadap
filsafat, apalagi pendekatan filosofis terhadap studi agama. Biasanya alasan
ketidakbisaan penelitian agama itu adalah bahwa agama adalah wahyu Allah
Penolakan terhadap
pendekatan filosofis, sebagaimana penolakan atas penggunaan sistem filsafat bagi
penelaahan agama, sesungguhnya dibangun atas konsepsi mengenai filsafat itu
sendiri. Filsafat, sebagaimana diketahui tidak pernah menghadirkan satu
kebenaran yang tunggal dan final. Kebenaran yang dihasilkan bersifat relatif
dan beragam.[6]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Islam sebagai agama yang banyak
menyuruh penganutnya menggunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat
memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. Pendekatan
filosofis adalah cara pandang atau peradigma yang bertujuan untuk
menjelaskaninti, hakekat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik
objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang
dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak. Memahami ajaran Islam
dengan pendekatan filosofis ini dimaksudkan agar seseorang melakukan pengamalan
agama sekaligus mampu menyerap inti, hakikat, atau hikmah dari apa yang
diyakininya.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, Dedi cs, 2012, Filsafat Agama, cet.1, Bandung: CV
PUSTAKA SETIA
Abdul Kodir, Koko,
2014, METODOLOGI STUDI ISLAM, Cet.1, Bandung: CV PUSTAKA SETIA
Muzairi, 2009, Filsafat Umum, cet.1, Yogyakarta: Teras
Nata, Abuddin, 1999,
METODOLOGI STUDI ISLAM, cet.3, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sholikhin, Muhammad,
2008, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, cet.1, jakarta: PT.BUKU KITA
[1]
Dedi Supriyadi cs, Filsafat Agama, cet.1 (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,
2012) hlm.10-15
[2]
Koko Abdul Kodir, METODOLOGI STUDI ISLAM, Cet.1 (Bandung:CV PUSTAKA
SETIA, 2014) hlm.29
[3]
Muzairi, Filsafat Umum, cet.1, (Yogyakarta:Teras, 2009) hlm.5
[4]
Abuddin Nata, STUDI ISLAM KOMPREHENSIF, cet.1, (Jakarta:KENCANA PRENADA
MEDIA GROUP, 2011) hlm.288
[5]
Abuddin Nata, METODOLOGI STUDI ISLAM, cet.3, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1999) hlm.42-45
[6]
Muhammad Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, cet.pertama,
(jakarta:PT.BUKU KITA,2008) hlm.74-76
Tidak ada komentar:
Posting Komentar